Jiwa yang Tak Tergantikan Prompt: Seniman Art Jakarta Papers 2026 Kritik AI dalam Proses Berkarya

Art Jakarta Papers 2026, edisi perdana pameran yang berfokus pada karya berbasis kertas.
“Mark The Flea” oleh Anita Nyotosetiadi.
“Mark The Flea” oleh Anita Nyotosetiadi.

Sepasang kekasih sedang beradu cinta. Seekor serangga raksasa menaungi mereka. Di bawah itu, ada beragam adegan persenggamaan laki-laki dan perempuan. Tungkai-tungkai saling membelit. Bibir mereka berpagutan. 

Gambar Anita Nyotosetiadi itu dipamerkan dalam Art Jakarta Papers 2026, edisi perdana pameran seni rupa kontemporer yang secara khusus berfokus pada medium kertas. Ajang yang berlangsung pada 5-8 Februari 2026 di City Hall Pondok Indah Mall 3 ini menampilkan 28 galeri dari Indonesia dan Asia. Ia menghadirkan karya berbasis kertas. Mulai dari gambar, cetak grafis, instalasi, hingga buku seniman.

Namun, karya Anita yang dipamerkan baru-baru ini tak lahir begitu saja. Ada proses perenungan yang panjang di baliknya.

Sekian tahun silam, Anita membaca puisi “The Flea” karya John Donne, yang mengisahkan godaan seksual antara laki-laki dan perempuan dalam balutan metafora seekor kutu. Puisi itulah yang mengilhaminya sehingga tercipta karya bertajuk “Mark The Flea”. Dengan pensil grafit, ia menggoreskan gambar tubuh-tubuh yang saling bertaut, membentuk komposisi yang padat namun puitis. Figur-figur manusia itu dinaungi garis halus yang menyerupai kaki serangga. Seolah hubungan mereka berada di bawah bayang-bayang kutu yang dalam puisi Donne menjadi simbol hasrat dan kedekatan.

“Dalam puisi itu, si kutu menggigit orang yang sedang berpacaran,” jelas Anita. Ia berdiri di hadapan gambar berbingkai. 

Menurut logika si laki-laki, darahnya sudah menyatu dengan darah si perempuan. Mereka jadi terikat satu sama lain. Lantas, ia pun mencoba menggoda kekasihnya untuk bersenggama sekalian. Pada akhirnya, perempuan itu menolak dan membunuh kutu yang menggigit mereka.

Anita menambahkan. “Dan menolak berhubungan seks tidak berarti si perempuan lebih lemah.”

Seri karya “Vanity of the Vanities” oleh Anita Nyotosetiadi. (Sumber: Instagram @anita_atelier)
Seri karya “Vanity of the Vanities” oleh Anita Nyotosetiadi. (Sumber: Instagram @anita_atelier)

Lebih jauh lagi, “Mark The Flea” hanyalah satu dari seri gambar “Vanity of Vanities”. Rangkaian karya ini adalah hasil perenungan Anita terhadap novel “Olenka” yang ditulis Budi Darma. Ia mencoba menerjemahkan absurditas dan kekacauan psikologis yang menjadi nuansa utama novel itu.

Proses-proses pengkaryaan inilah, menurut Anita, yang takkan tergantikan oleh akal imitasi (AI). Ia sudah membaca, baik “The Flea” maupun “Olenka”, sejak 2022. Lantas, ia mulai membuat sketsa-sketsa kasar dan baru digarap secara serius pada 2026. 

And nothing to do with AI at all. I do my own research,” ucapnya dengan bangga.

Meski begitu, Anita tidak sepenuhnya menolak kehadiran AI. Baginya, teknologi itu tetap bisa digunakan. Selama AI ditempatkan sebagai alat. Bukan pengganti proses berpikir manusia.

“AI sebenarnya cuma tools,” katanya. “Tapi, kitanya sendiri harus lebih pintar dari AI. Kalau kita tidak punya pengetahuan, kita juga tidak tahu bagaimana cara bertanya.”

Ia menjelaskan, kualitas jawaban AI sangat bergantung pada kemampuan manusia memberi arahan. Tanpa pemahaman yang cukup, hasil yang keluar dari AI akan melenceng.

“AI juga banyak bikin kesalahan,” tandas Anita. “Makanya kita yang harus lebih pintar. Anggap saja AI itu staf kita. Kita yang jadi bosnya.”

Bagi Anita, kerja artistik tetap berporos pada pengalaman membaca, riset, dan perenungan. Itu adalah hal-hal yang tidak bisa dipercepat hanya dengan satu prompt.

Beranjak dari karya Anita yang penuh metafora tubuh dan hasrat, karya seniman lain di ruang pamer menawarkan nuansa berbeda. Diva Meshia, seorang seniman botani, menghadirkan seri berjudul “A Blooming in the Space Between”. Di partisi-partisi pameran, tergantung beragam gambar tumbuhan.

Seri “A Blooming in The Space Between” dan “A Jester’s Cry” oleh Diva Meshia.
Seri “A Blooming in The Space Between” oleh Diva Meshia.

Salah satu karyanya, “A Jester’s Cry”, menampilkan bunga-bunga terompet jingga yang menjuntai dari rimbunan daun hijau. Diva menorehkan setiap urat daun dan lipatan kelopak dengan pensil warna di atas kertas. Bunga itu tampak mekar sekaligus rapuh. Kelopaknya yang menggantung seperti sedang menunduk. Kontras dengan daun-daun lebar yang menaunginya.

Karya ini mengingatkan pada lagu “A Jester’s Cry” milik Maebi yang dirilis pada 2023 dan seakan memvisualisasikan suasana liriknya. Lagu berdurasi singkat itu merupakan salah satu trek dari album “Selcouth Stranger”. Lewat karyanya, Diva berusaha memvisualisasikan lirik-lirik lagu tersebut.

Dalam banyak karya seni, figur jester atau badut kerap dimaknai sebagai paradoks emosi. Sosok ceria dan menghibur di hadapan publik. Tapi, di balik topeng warna-warni, ia menyimpan kesedihan. Ia melambangkan kerapuhan yang berkelindan dengan tawa orang lain.

Makna itulah yang muncul dalam gambar Diva. Bunga terompet yang menjuntai tampak anggun sekaligus muram. Seakan menyimpan tangisan sunyi di antara rimbun dedaunan. Melalui pendekatan botani yang teliti, Diva menghadirkan tafsir visual tentang emosi yang tersembunyi. Mekar yang semarak sekaligus sendu di saat yang bersamaan.

Pendekatan ini, bagi Diva, juga tidak terlepas dari proses pengamatan langsung terhadap tanaman. Ia biasanya mendatangi tumbuhan yang menjadi objek gambarnya, membuat sketsa cepat di lokasi, lalu memotretnya sebagai acuan warna.

“Kalau tanaman sendiri bagi aku hampir mustahil untuk tidak mengenal tanamannya secara langsung. Mengenal tanaman hanya dari foto itu seperti kenal orang tapi tidak pernah bertemu. Hanya ngobrol lewat telepon,” ujar Diva.

Karena itu pula, ia menilai proses menjadi bagian penting dari kerja artistik. Bukan sekadar menggambar, tetapi juga mempelajari subjek yang digambar.

Pandangan tersebut membuatnya kritis terhadap penggunaan AI dalam proses kreatif. Menurutnya, ada banyak hal yang hilang jika eksplorasi visual dipercepat oleh teknologi tersebut.

“Kalau AI kan mengenerate sesuai permintaan kita. Tapi, tahap eksplorasi saat kita mencari visual itu bukan sesuatu yang bisa di-bypass. Kita tetap harus melalui proses itu secara manual,” katanya.

Diva juga merasa hubungan emosional antara seniman dan karya berkurang jika prosesnya terlalu bergantung pada AI.

“Jika karya itu di-generate dengan AI, menurut aku sisi emosionalnya jadi kurang terasa. Karena semuanya berbasis prompt,” ujarnya.

Justru ketidaksempurnaan dalam proses manual menjadi bagian penting dari karya seni. Kesalahan kecil atau human error menghadirkan sisi manusiawi yang tidak selalu muncul pada karya yang kelewat dipoles.

“Karya yang terlalu polished seperti AI generated, menurut aku, sisi humanisnya hilang,” kata Diva sembari menggelengkan kepalanya.

“A Jester’s Cry” oleh Diva Meshia
“A Jester’s Cry” oleh Diva Meshia

 

Menyepelekan Proses: Bagaimana AI Ubah Persepsi Publik soal Seni 

Pendapat Diva dan Anita sejalan dengan temuan riset Yearry Panji Setianto, dosen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang mengkaji dampak kecerdasan buatan terhadap pekerja seni dan kreatif. Dalam pandangan Yearry, kemunculan AI sebenarnya bukan fenomena yang sepenuhnya baru di sejarah perkembangan teknologi.

Meskipun begitu, kekhawatiran terhadap AI muncul dari cara teknologi ini mengubah persepsi publik terhadap karya seni. Menurut Yearry, kemudahan menghasilkan gambar melalui AI berpotensi membuat orang menganggap proses artistik tidak lagi penting.

“Ada kesan sekarang semua orang bisa jadi seniman. Cukup memasukkan prompt ke AI, lalu langsung muncul gambar,” ujarnya.

Situasi ini memunculkan alternatif karya visual yang jauh lebih murah dan cepat dibandingkan memesan langsung kepada seniman. Dari sudut pandang masyarakat awam, pilihan tersebut sering kali dianggap lebih praktis.

“Dulu, orang ingin ilustrasi atau desain grafis, mereka akan meminta bantuan ilustrator,” tegas Yearry. “Sekarang ada versi murahnya lewat AI.”

Ia menilai kecenderungan itu bakal berdampak pada cara publik menghargai karya seni. Ketika karya visual dapat dihasilkan secara instan, apresiasi terhadap proses kreatif yang panjang berpotensi menurun.

“Normalisasi bahwa semua orang bisa membuat gambar sendiri lewat AI itu yang justru cukup meresahkan bagi pekerja seni,” tegasnya.

Kekhawatiran lain juga muncul dari fenomena orang yang mengklaim dirinya sebagai seniman hanya dengan mengandalkan teknologi tersebut.

“Akan muncul orang-orang yang mengaku sebagai AI artist. Padahal, mereka hanya mengandalkan teknologi untuk menghasilkan gambar,” jelas Yearry.

Fenomena ini merupakan konsekuensi dari teknologi baru yang semakin mudah diakses masyarakat luas. Namun, untuk jangka panjang, kondisi itu berpotensi mengaburkan batas antara karya yang lahir dari proses artistik dengan karya yang sepenuhnya dihasilkan oleh sistem otomatis.

 

Mencari Tempat AI dalam Kerja Kreatif

Lewat penelitiannya terhadap pekerja seni, Yearry menemukan bahwa banyak seniman tetap memposisikan AI hanya sebagai teman diskusi atau alat eksplorasi awal. “Ide itu sering muncul dari ngobrol dengan teman, dari nongkrong, dari melihat langsung situasi di masyarakat. Momen-momen seperti itu yang kemudian diterjemahkan menjadi karya,” kata Yearry. “Hal-hal seperti ini belum tentu bisa tergantikan oleh secanggih apapun AI.”

Senada dengan Yearry, Ratri Ninditya, koordinator penelitian dari Koalisi Seni, menekankan bahwa kehadiran AI bukan sekadar soal teknologi. Melainkan tentang bagaimana seniman tetap mengendalikan proses kreatifnya. 

“AI sebenarnya adalah alat, teman diskusi, atau medium eksplorasi bagi seniman. Masalah muncul ketika AI belajar dari karya seniman tanpa izin. Sementara perusahaan yang mengembangkan AI memperoleh keuntungan besar dari situ,” ujarnya. 

Ratri menambahkan bahwa efek AI berbeda-beda tergantung konteks bekerja. Seniman di industri kreatif merasa terancam sebab harus bersaing dengan AI. Sementara seniman yang bekerja independen cenderung memanfaatkannya sebagai sarana brainstorming. Ia turut menekankan urgensi perlindungan hak cipta dan kesadaran publik terhadap proses kreatif manusia agar apresiasi atas karya seni tidak hilang. Sekaligus menghindari normalisasi bahwa AI dapat sepenuhnya menggantikan seniman.

“Normalisasi bahwa AI bisa menggantikan seniman itu yang berbahaya. Karya seni tidak hanya soal hasil, tapi juga soal perjuangan, eksperimen, dan keunikan manusia yang melahirkan ide itu,” tegasnya. 

Dengan kata lain, AI boleh mempermudah, tapi tidak bisa, dan seharusnya tidak pernah menghapus kemanusiaan dari seni.

Untitled oleh Wimo Ambala Bayang. (Sumber: Instagram @artjakarta)
Untitled oleh Wimo Ambala Bayang. (Sumber: Instagram @artjakarta)

Di tengah kecamuk perdebatan soal AI dan proses kreatif, sebuah karya tanpa judul menggantung di penghujung partisi. Tak semencolok karya-karya lainnya. Tiada warna-warna semarak di situ.

Karya itu adalah hasil jepretan Wimo Ambala Bayang, seorang seniman fotografi asal Magelang yang merupakan punggawa Ruang Mess 56. Ia hanya memotret bongkahan resin berwujud batu dengan permukaan abu-abu gelap yang kasar seperti batu alam. Di atas batu itu, ada ukiran kata-kata yang berbunyi: “Where should we go from here?”

Sekilas, potret itu memang terkesan sederhana. Namun, ada kesan mengganjal yang timbul saat menatapnya. Seolah-olah, setelah semua hiruk-pikuk masalah yang dibawa AI ke dunia seni, Wimo justru melemparkan satu pertanyaan paling mendasar.

Ke mana kita akan melangkah setelah ini?

Sayangnya, Wimo tak hadir di Art Jakarta Papers. Begitu berhasil mendapatkan kontak dan menghubunginya, Wimo bersedia diwawancara secara daring. Ketika ditanya apakah AI bisa menggantikan proses kreatif manusia dalam menciptakan seni, ia menegaskan pendapatnya. Bagi Wimo, proses adalah fase penting yang melahirkan hasil akhir. Dan AI takkan memengaruhi kedekatan emosionalnya dengan karya karena inti proses tetap manusiawi.

Jawaban lanjutannya singkat.

“Satu kata saja,” ujarnya.

“Tidak.”

 

Kamu lelah bekerja keras tapi masih jauh dari sejahtera? Kamu capek dengan berita yang berpihak terus pada pengusaha, penguasa, dan mereka yang kaya? Progresip mendukungmu untuk mengubah keadaan dan kebijakan yang lebih adil untuk pekerja. Suaramu layak didengar, disuarakan, dan dilantangkan. Klik di sini untuk jadi Sekutu Progresip.

Artikel Reportase Lainnya

Para terdakwa dugaan kasus penghasutan di muka umum (dari kiri ke kanan) Muzaffar Salim, Delpedro Marhaen, Syahdan Husein, dan Khariq Anhar menyampaikan aspirasinya sesaat setelah putusan vonis bebas majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).

Video Terbaru